skip to content
Ynmo
Tanpa Kategori

10 Strategi Kelas untuk Memastikan Pendidikan Inklusif bagi Siswa Berkebutuhan Khusus

2 November 2021

Anak-anak berkebutuhan khusus berkembang pesat melalui inklusi dalam pendidikan dan integrasi dengan teman sebaya mereka. Ada banyak pelajaran yang dapat mereka pelajari dari anak-anak lain, dan banyak persahabatan yang dapat dijalin. Anak-anak dengan gangguan spektrum autisme dan disabilitas belajar lainnya, seperti gangguan hiperaktivitas defisit perhatian, menunjukkan kinerja yang lebih baik, baik secara akademis maupun sosial, jika ruang kelas disiapkan untuk mengakomodasi kebutuhan khusus mereka. Para guru juga harus kreatif dan inovatif saat mempersiapkannya. Mengelola kelas inklusif menjadi lebih mudah jika menerapkan strategi pengajaran sederhana yang disesuaikan untuk siswa berkebutuhan khusus. Kiat-kiat berikut ini juga akan membantu Anda menciptakan lingkungan belajar yang mendukung siswa untuk berkembang dan inklusif.

1. Atur meja kelas dalam bentuk barisan, alih-alih menggunakan kursi melingkar di sekitar meja besar. Siswa dengan autisme membutuhkan ruang mereka sendiri. Perhatian siswa dengan gangguan hiperaktivitas dan defisit perhatian mudah teralihkan, sehingga tempat duduk yang sesuai bagi mereka adalah yang dekat dengan guru dan menghadap ke depan. Perhatian anak-anak berkebutuhan khusus secara umum mudah teralihkan, jadi jauhkan meja mereka dari jendela, pintu, dan area aktivitas di dalam kelas.

2. Tempatkan aturan kelas di lokasi yang jelas di dalam kelas, dan tinjau secara berkala. Mintalah siswa bergantian membaca aturan dengan suara lantang sebagai bagian dari rutinitas harian. Pastikan semua siswa memahami aturan kelas dan konsekuensi jika tidak mematuhinya. Mungkin bermanfaat untuk mengizinkan mereka membantu menyusun aturan kelas.

3. Berikan petunjuk lisan secara berulang, dan pastikan instruksi Anda mudah dipahami. Ulangi instruksi jika siswa tampak tidak memahami apa yang Anda katakan.

4. Gunakan media visual seperti bagan, diagram, dan gambar. Gunakan gambar berwarna yang cerah. Anak-anak dengan autisme cenderung merespons teknologi dengan baik. Garis pembelajaran bertahap sangat menarik bagi mereka dan memungkinkan mereka berinteraksi selama belajar.

5. Teman sebaya dapat menjadi teladan yang luar biasa bagi siswa dengan spektrum autisme. Pasangkan anak-anak yang cocok saat mengerjakan proyek atau berpartisipasi dalam aktivitas kelas. Banyak anak menyambut baik kesempatan untuk menjadi teladan bagi siswa berkebutuhan khusus. Pengalaman ini tidak hanya positif bagi siswa dengan autisme, tetapi juga bagi teman sekelasnya.

6. Buat jadwal yang dapat diprediksi. Anak-anak dengan autisme cenderung menyukai rutinitas yang dapat diprediksi. Berikan pemberitahuan sebelumnya jika jadwal harian akan berubah. Jika ada karyawisata sekolah, tamu di kelas, atau guru pengganti, cobalah memberi tahu kelas terlebih dahulu. Perubahan tak terduga dalam rutinitas bisa menjadi hal yang sulit bagi anak dengan autisme.

7. Ajarkan keterampilan sosial seperti mengangkat tangan, bergiliran, dan berbagi sebagai bagian dari kurikulum pembelajaran. Semua siswa akan mendapat manfaat ketika pengingat diberikan. Anak-anak dengan autisme sering kali melakukan perilaku stimulasi diri seperti mengepakkan tangan atau bergoyang. Bantu siswa lain di kelas memahami perilaku ini.

8. Sediakan waktu istirahat. Bacakan cerita atau mainkan permainan singkat. Terkadang kesempatan untuk beranjak dari tempat duduk dan berjalan-jalan di sekitar ruangan sangat menenangkan bagi anak dengan autisme. Cobalah untuk memperhatikan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa siswa mungkin memerlukan istirahat sejenak.


9. Fokus pada kekuatan siswa. Jika seorang anak tertarik pada dinosaurus, bisbol, hewan peliharaan, atau olahraga air, ia membutuhkan kesempatan untuk menunjukkan minatnya dalam hal

ini. Kami mengembangkan Ynmo terutama untuk memberdayakan guru dalam merancang program pendidikan individual untuk setiap anak berkebutuhan khusus sesuai dengan kekuatan dan kebutuhannya. Siswa berkebutuhan khusus berkembang pesat ketika program-program individual yang dirancang khusus dikembangkan untuk mereka.


10. Kurangi stimulus lingkungan Kebisingan yang keras, cahaya terang, serta suhu yang panas atau dingin dapat mengganggu pola pikir anak dan memicu perilaku yang tidak diinginkan di dalam kelas. Perhatikan stimulus lingkungan ini dan hilangkan jika memungkinkan.

Diterjemahkan secara bebas

Awalnya diterbitkan dalam bahasa Arab. Versi bahasa Indonesia ini dihasilkan melalui terjemahan berbantuan AI; naskah asli berbahasa Arab tetap menjadi acuan.

Masukkan informasi kontak

Kami akan menghubungi Anda dalam 24 jam.