skip to content
Ynmo
Tanpa Kategori

Pembelajaran Kooperatif di Ruang Kelas Inklusif

30 Agustus 2023

"Siswa yang bekerja bersama, belajar bersama"

Lisa M. Emerson, M.Ed.

Mei/Juni 2013

Siswa penyandang disabilitas berpartisipasi lebih banyak dalam aktivitas ruang kelas ketika strategi pembelajaran kooperatif diterapkan dibandingkan dengan metode kelas tradisional. Secara khusus, di kelas inklusif yang menerapkan pembelajaran kooperatif, siswa mengekspresikan pemikiran mereka secara lebih bebas, menerima umpan balik yang menegaskan dan membangun, terlibat dalam teknik pengajuan pertanyaan, menerima pelatihan keterampilan tambahan, serta memiliki peluang lebih besar untuk merespons.

Selain itu, ketika siswa berpikir dengan suara keras saat berdiskusi, guru dapat menilai kebutuhan siswa dan kelompok dengan lebih baik serta melakukan intervensi jika diperlukan. Artinya, melalui pemantauan pembelajaran siswa secara aktif, guru dapat mengarahkan kembali kelompok menuju tugas-tugas pembelajaran dan menyediakan opsi pengajaran ulang melalui kelompok-kelompok kecil sesuai kebutuhan. Ketika struktur yang diperlukan untuk terjadinya tingkat dialog ini dibangun, hal tersebut akan mempercepat proses pemahaman (Bucalos & Lingo, 2005).

Menurut Stevens dan Slavin (1995), siswa penyandang disabilitas lebih mungkin berada pada tingkat instruksional yang tepat dan memperoleh hasil pembelajaran yang positif ketika penjelasan dan model diberikan oleh teman sebaya mereka. Manfaat dan pembelajaran berkualitas ini hanya terwujud ketika guru pendidikan umum dan khusus berkomitmen pada struktur pembelajaran yang memberi manfaat bagi semua siswa.

Pembelajaran kooperatif menantang keyakinan sebagian orang tentang pendidikan, karena kelas kooperatif mewakili pergeseran dari ruang kelas bergaya ceramah tradisional menuju lingkungan yang lebih ramah bagi otak manusia dan bermanfaat bagi semua pembelajar (lihat gambar di bawah).

Dari Pembelajaran Tradisional

Menuju Pembelajaran Kooperatif

"Kelas yang baik adalah kelas yang tenang."

"Belajar melibatkan kebisingan yang sehat."

"Ini adalah tugas mandiri."

"Ini adalah kerja kelompok kooperatif."

"Fokuskan pandangan pada lembar kerjamu sendiri."

"Mintalah bantuan kepada pasanganmu."

"Duduklah dengan tenang."

"Berdirilah dan lihat apa yang telah dikerjakan orang lain."

"Berbicara adalah bentuk kecurangan."

"Berbicara adalah belajar."

  • Aspek-Aspek Penting untuk Membangun Pembelajaran Kooperatif yang Efektif

Aspek-aspek mendasar dalam pengorganisasian kelompok kooperatif meliputi:

1. Ukuran kelompok

2. Tujuan pembelajaran yang jelas

3. Instruksi langsung untuk prosedur kelompok

4. Kelompok dengan kemampuan campuran

5. Akuntabilitas individu dan kelompok.

Ukuran: Ukuran kelompok yang direkomendasikan berkisar antara dua hingga empat siswa. Semakin kecil kelompoknya, semakin tinggi tingkat partisipasinya. Kelompok beranggotakan tiga siswa sering kali sulit dikelola karena menyisakan satu siswa di luar dialog pada satu waktu tertentu.

Tujuan pembelajaran yang jelas dan pengajaran langsung prosedur kelompok: Guru yang memperoleh hasil terbaik dari kelompok pembelajaran kooperatif mengajarkan siswa secara langsung cara berinteraksi sebelum kelompok memimpin proses belajar mereka sendiri. Menetapkan peran di dalam kelompok juga membuat siswa tetap fokus pada tujuan pembelajaran yang ditentukan.

Kelompok berkemampuan campuran: Penelitian Ncube (2011) menunjukkan bahwa kelompok fleksibel berkemampuan campuran memiliki keunggulan dibandingkan siswa yang dikelompokkan secara homogen, karena siswa berprestasi tinggi dapat membimbing siswa yang kesulitan dengan keterampilan atau konsep tertentu. Pada saat yang sama, siswa yang lebih kompeten dalam keterampilan tertentu memperdalam pembelajaran mereka dengan menerapkan keterampilan berpikir tingkat yang lebih tinggi sambil membantu orang lain mencapai keberhasilan.

Akuntabilitas: Siswa membutuhkan tujuan individu dan kelompok untuk memupuk kerja sama. Kebutuhan untuk merasakan "kita bersama-sama dalam hal ini!" dan kemampuan untuk mengandalkan rekan satu tim sangat penting bagi pembelajaran siswa. Guru, dan pada akhirnya teman sebaya, perlu memberikan umpan balik mengenai kemajuan yang dicapai dalam memenuhi tujuan kelompok dan individu, dan pelepasan tanggung jawab secara bertahap ini menghasilkan pembelajar yang lebih terlibat dan mandiri.

Pembelajaran kooperatif di dalam ruang kelas inklusif memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang matang untuk mencapai dampak tertinggi bagi semua siswa (Stevens & Slavin, 1995).

  • Jenis-Jenis Tim Kooperatif

Terdapat empat jenis utama tim kooperatif: heterogen, acak, homogen, dan dipilih oleh siswa. Keempatnya memiliki tujuan instruksional (lihat gambar di bawah). Oleh karena itu, jenis tim yang digunakan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran instruksional dan kebutuhan siswa.

Kelompok heterogen banyak digunakan dalam pembelajaran kooperatif karena secara alami mendukung teman sebaya saling membantu, meningkatkan penerimaan sosial bagi semua tipe pembelajar, dan dapat membantu pengelolaan kelas. Namun demikian, keempatnya dapat diterapkan sepanjang tahun ajaran untuk mendukung proses pengajaran (Kagan & Kagan, 2009).

 

 

 

 

 

 

Kelebihan dan Peringatan terhadap Berbagai Jenis Tim Kooperatif

 

 

 

Jenis Tim

 

 

 

Kelebihan

Peringatan

 

 

Heterogen
(Kemampuan beragam, jenis kelamin, tantangan berbeda)

 

 

 

Keseimbangan
Peluang belajar lebih besar
Pengelolaan lebih mudah

Memerlukan lebih banyak waktu persiapan bagi guru
Siswa dapat terlabeli
Peluang kepemimpinan terbatas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tim acak
Pembentukan tim secara acak

 

 

 

Keadilan
Kebaruan, keragaman, dan menyenangkan
Cepat dan mudah

Keragaman tidak terjamin
Kemungkinan munculnya perilaku di luar tugas
Dapat terbentuk tim yang semuanya "berkinerja tinggi" atau "berkinerja rendah"

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tim homogen
Tim dengan karakteristik serupa
(Kemampuan, minat, bahasa)

 

 

 

Peluang kepemimpinan
Penghargaan yang nyata bagi kelompok tingkat lanjut
Instruksi yang terdiferensiasi

Ketidakadilan
Rendahnya penghargaan bagi kelompok tingkat bawah
Stereotip negatif

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tim yang dipilih oleh siswa
Siswa memilih tim mereka sendiri

 

 

 

Kebaruan, keragaman, dan menyenangkan
Keakraban
Kemudahan pengambilan keputusan

Tidak seimbang
Kemungkinan tinggi munculnya perilaku di luar tugas

Argumen kuat lainnya dalam penggunaan kelompok pembelajaran kooperatif adalah potensi pengembangan keterampilan sosial yang signifikan. Isolasi sosial telah ditemukan sebagai faktor risiko kesehatan yang sama merusaknya dengan merokok atau tekanan darah tinggi (House, Landis, & Umberson, 1988).

Pembelajaran kooperatif memberikan struktur organisasi kepada siswa untuk berinteraksi secara tepat dengan teman sebaya mereka serta peluang untuk melatih keterampilan sosial. Ini mencakup keterampilan sosial yang terjadi secara alami dalam kelompok kooperatif, seperti meminta bantuan, bergiliran, dan berbeda pendapat dengan sopan. Ketika diintegrasikan ke dalam praktik akademik, pengajaran dan pelatihan keterampilan sosial membutuhkan lebih sedikit waktu pelaksanaan. Terakhir, pengintegrasian keterampilan sosial juga membantu pengelolaan kelas karena berkurangnya gangguan serta meningkatnya persepsi positif terhadap sekolah dan pembelajaran (Jensen, 2005).

 

  • Strategi Pembelajaran Kooperatif untuk Mendukung Siswa

Struktur pembelajaran kooperatif yang tercantum di bawah ini merupakan contoh intervensi berbasis bukti yang telah menunjukkan efek positif pada pembelajaran bagi semua siswa di berbagai bidang konten dan tingkat kelas.

1. Clock Partners (Garmston & Wellman, 2002)

Merupakan metode pengelompokan pembelajaran kooperatif untuk menetapkan pasangan kerja bersama. Guru membagikan lembar "My Clock Partners" dan meminta siswa berkeliling ruangan untuk meminta teman sekelas mereka mendaftar pada suatu jam di lingkaran jam. Saat lembar jam terisi lengkap, siswa memiliki 12 pasangan berbeda—satu pasangan untuk setiap jam pada lingkaran jam. Ketika guru ingin menambahkan unsur kebaruan dan inovasi dalam kerja berpasangan, ia berseru, "Temukan janji temu jam 3:00 Anda", dan siswa bergerak di sekitar kelas hingga menemukan pasangan yang telah ditentukan. Struktur ini menghemat waktu pengajaran dan menyediakan pergerakan yang teratur di dalam kelas.

2. Peran Pembelajaran Kooperatif (Tate, 2003)

Peran pembelajaran kooperatif dirancang untuk meningkatkan partisipasi dan menciptakan kesetaraan bagi semua orang di dalam tim pembelajaran kooperatif. Contoh peran meliputi pelapor, pencatat, pengatur waktu, pemimpin, dan penyemangat. Setiap anggota tim menjalankan peran tertentu untuk memanfaatkan waktu tim bersama secara efisien. Setiap peran diajarkan langsung kepada siswa, dan tugas-tugas yang sesuai serta perancangan kalimat dimodelkan untuk membantu mengembangkan keterampilan sosial.

Batang kalimat (sentence stems) digunakan, yaitu frasa-frasa yang dipelajari siswa untuk membantu komunikasi yang jelas. Contohnya meliputi "Apa yang Anda maksud dengan ____?", atau "Hal ini membuat saya berpikir tentang ____?", atau "Sejauh ini kita telah menyelesaikan ____". Peran dirotasi untuk mendorong keterampilan kepemimpinan dan kerja tim.

3. Numbered Heads Together (Kagan & Kagan, 2009)

Numbered Heads Together memaksimalkan kolaborasi kelompok dan pembelajaran teman sebaya. Tim dibentuk beranggotakan empat orang dengan nomor, dari satu hingga empat. Setiap anggota tim memiliki nomor tertentu. Guru mengajukan pertanyaan berpikir tingkat tinggi kepada kelas, dan tim berdiri untuk bekerja sama menjawab pertanyaan tersebut sambil memastikan bahwa semua anggota dapat menjelaskan jawaban tim secara tepat.

Setelah tim yakin bahwa semua anggota dapat menjelaskan pemikiran mereka, mereka dapat duduk. Ketika semua tim telah duduk, guru memanggil sebuah nomor secara acak, dan siswa yang memiliki nomor tersebut menjelaskan jawaban timnya. Siswa dapat merespons menggunakan kartu respons, papan tulis individu, atau secara lisan. Numbered Heads Together meningkatkan akuntabilitas individu dan kelompok di samping kerja tim.

4. Rally Coach (Kagan & Kagan, 2009)

Model ini merupakan struktur pelatihan untuk kelompok beranggotakan dua siswa yang digunakan untuk memperkuat keterampilan dan memberikan latihan tambahan dengan umpan balik jika diperlukan. Pasangan siswa diberikan satu set soal dan satu pensil. Pasangan pertama menyelesaikan masalah sementara pasangan kedua mengamati, mendengarkan, memeriksa, melatih, dan memuji. Kemudian keduanya bertukar peran, pasangan pertama menjadi pelatih sementara pasangan kedua menyelesaikan masalah. Pasangan mengulangi proses ini hingga tugas selesai. Struktur ini memberi kesempatan bagi guru untuk memantau pasangan dan membantu tim sesuai kebutuhan. Pasangan RallyCoach paling efektif ketika pasangan tersebut memiliki kemampuan akademik yang serupa. Misalnya, siswa berprestasi tinggi dipasangkan dengan siswa berprestasi menengah, dan siswa berprestasi menengah dipasangkan dengan siswa berprestasi rendah pada tugas tertentu. Pengaturan berpasangan ini mencegah salah satu pihak mendominasi peluang melatih dan pihak lain menjadi pembelajar pasif.

5. Talking Chips (Kagan & Kagan, 2009)

Talking Chips memastikan suara semua siswa didengar selama diskusi pembelajaran kooperatif, di mana tim yang terdiri dari empat orang diberikan topik diskusi tertentu dan beberapa menit waktu berpikir individu. Setiap anggota tim menerima dua lembar bicara untuk digunakan selama waktu diskusi. Ketika siswa berpartisipasi dalam diskusi kelompok, mereka meletakkan satu kartu bicara di tengah meja (lembar yang telah dibagikan sebelumnya). Setelah semua siswa menggunakan dua lembar bicara mereka, salah satu siswa merangkum percakapan. Tim mengumpulkan kembali kartu bicara di tengah meja dan melanjutkan percakapan menggunakan kartu-kartu tersebut hingga waktu habis. Penggunaan kartu bicara mendorong semua siswa untuk menyampaikan ide-ide mereka dan memberi mereka kemampuan untuk menjadi pendengar yang aktif dan penuh perhatian.

6. Pengajaran Timbal Balik (Reciprocal Teaching) (Gajria, Jitendra, Sood, & Sacks, 2007)

Pengajaran timbal balik adalah strategi pembelajaran kooperatif yang menggunakan peran-peran tertentu untuk membantu pemahaman teks. Bahan bacaan yang digunakan harus sesuai dengan tingkat instruksional semua siswa di dalam kelompok. Penjelasan dan pemodelan peran secara tepat kepada siswa juga sangat penting.

Peran pengajaran mencakup empat karakter: Pemprediksi, Penjelas, Penanya, dan Perangkum.

Guru memberikan bacaan yang sesuai dengan tingkat instruksional kepada masing-masing kelompok untuk dibaca. Jika siswa membaca bagian pertama. Setelah itu, Perangkum menceritakan kembali bagian tersebut dengan kata-katanya sendiri, Penanya merumuskan pertanyaan untuk kelompok, Penjelas mengatasi setiap kebingungan terkait pemahaman teks, dan Pemprediksi membuat prediksi tentang bagian berikutnya. Peran dirotasi sehingga setiap siswa mendapat kesempatan untuk mempraktikkan setiap peran. Guru dapat menetapkan peran pembaca secara strategis, sehingga para pembaca memiliki bagian yang sesuai secara instruksional untuk dibaca. Misalnya, pembaca yang mengalami kesulitan membaca dapat membaca bagian teks yang sudah dikenal, yang terdiri dari beberapa kata dengan frekuensi tinggi atau bagian teks yang lebih pendek. Pilihan lainnya adalah meminta siswa membaca dalam hati lalu mendiskusikan bagian tersebut. Jenis pengajaran timbal balik ini mendorong penerapan pemahaman secara mandiri dalam kerangka kooperatif.

Sebagai kesimpulan dari artikel ini, struktur pembelajaran kooperatif yang diterapkan dalam rutinitas kelas meningkatkan pembelajaran aktif bagi siswa penyandang disabilitas dan teman sebayanya yang non-disabilitas. Struktur-struktur ini sangat bermanfaat bagi siswa yang membutuhkan latihan tambahan serta umpan balik penegasan dan koreksi sepanjang hari sekolah. Struktur pembelajaran kooperatif terus mendukung praktik inklusif dan melengkapi pengembangan keterampilan akademik serta sosial.

Oleh karena itu, siswa yang bekerja bersama, belajar bersama untuk meningkatkan pencapaian akademik dan penerimaan sosial bagi semua!

Di Ynmo, kami berupaya meningkatkan kualitas proses pendidikan di dalam kelas dengan menyediakan kurikulum, asesmen, dan program individual digital yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa secara mandiri.

Daftar sekarang dan mulai gratis!

Daftar sekarang gratis!

Referensi:
Bucalos, A. L., & Lingo, A. S. (2005). Filling the potholes in the road to inclusion: Successful research-based strategies for intermediate and middle school students with mild disabilities. TEACHING Exceptional Children Plus, 1(4).

Jensen, E. (2005). Teaching with the brain in mind. Alexandria, VA: Association for Supervision and Curriculum Development.

Gajria, M., Jitendra, A. K., Sood, S., & Sacks, G. (2007). Improving comprehension of expository text in students with LD: A research synthesis. Journal of Learning Disabilities, 40(3), 210-225.

Garmston, R., & Wellman, B. (2002). The adaptive school: Developing and facilitating collaborative groups (4th ed.). El Dorado Hills, CA: Four Hats Seminar.

House, J., Landis, K., & Umberson, D. (1988). Social relationships and health. Science, 241, 540-545.

Kagan, S., & Kagan, M. (2009). Kagan cooperative learning. San Clemente, CA: Kagan Publishing.

Ncube, S. (2011). Peer-collaboration: An effective teaching strategy for inclusive classrooms. The Journal of International Association of Special Education,12(1), 79-81.

Stevens, R. J., & Slavin, R. E. (1995). Effects of a cooperative learning approach in reading and writing on academically handicapped and nonhandicapped students. Elementary School Journal, 95(3), 241-262.

Tate, M. L. (2003). Worksheets don’t grow dendrites: 20 Instructional strategies that enagage the brain. Thousand Oaks, CA: Corwin Press.

Awalnya diterbitkan dalam bahasa Arab. Versi bahasa Indonesia ini dihasilkan melalui terjemahan berbantuan AI; naskah asli berbahasa Arab tetap menjadi acuan.

Masukkan informasi kontak

Kami akan menghubungi Anda dalam 24 jam.