
Bagaimana Cara Kita Membaca untuk Anak-Anak?
31 Januari 2023
Dr. Haifa Al-Ruwaiqi
Asisten Profesor di Universitas King Abdulaziz
Doktor dalam bidang dampak perangkat digital terhadap bahasa anak dari Universitas Manchester di Inggris
Membaca adalah salah satu praktik terpenting yang menstimulasi perkembangan bahasa, namun kita semua sebagai orang tua dan guru tidak membaca dengan cara yang sama. Metode membaca untuk anak bervariasi, dan seiring perbedaan metode tersebut, hasil yang diharapkan pun berbeda. Dalam artikel berjudul "Memaksimalkan Efektivitas Membaca Nyaring", Lane & Wright (2007) menunjukkan bahwa hasil positif terbaik dari membaca nyaring (reading aloud) ditemukan saat menerapkan metode dan strategi membaca yang dirancang oleh para peneliti di bidang perkembangan dan pembelajaran anak dibandingkan dengan hasil saat membaca untuk anak secara acak.
Apa yang dikatakan penelitian tentang dampak metode membaca terhadap perkembangan keterampilan bahasa?
Sebuah studi menunjukkan bahwa anak-anak dari para ibu yang membacakan buku untuk anak-anak mereka pada usia 2–4 tahun:
- secara lebih interaktif
- yang lebih banyak bertanya
- menghubungkan konten buku dengan pengalaman kehidupan nyata
memperoleh skor lebih tinggi pada ukuran bahasa ekspresif di usia sekolah (Britto, Brooks-Gunn, & Griffin, 2006)
Orang tua atau guru dapat menggunakan teknik membaca tertentu yang dapat memfasilitasi pembelajaran dan perkembangan bahasa anak, meliputi:
- Interaksi
- Mengajukan pertanyaan kepada anak saat membaca
- Mendorong anak untuk bertanya saat membaca
- Menghubungkan konten buku atau cerita dengan kehidupan nyata anak
- Menarik perhatian anak menggunakan bahasa verbal dan gestur
(Fletcher et al., 2008; Flynn, 2011; Landry et al., 2012; Weigel, Lowman, & Martin, 2007)
Selain teknik perluasan teks atau melengkapi teks (expansion) yang diberikan oleh pembaca kepada anak sehingga:
- Mendukung perkembangan struktur kalimat
- Mendukung perkembangan keterampilan pemahaman makna
- Menyebabkan peningkatan rata-rata panjang kalimat yang diucapkan anak
(Fletcher et al., 2008; Wasik, 2001; Wasik & Bond, 2001; Yoder et al., 1995)
Bagaimana cara kita membaca untuk anak-anak?
- Pilihlah cerita dan teks yang sesuai dengan apa yang disukai anak-anak dan sesuai dengan pengalaman mereka
- Untuk anak-anak kecil, pilihlah buku dengan gambar berwarna cerah, alur peristiwa yang jelas dan mudah, karakter yang ceria dan interaktif, serta bahasa yang sederhana dan menstimulasi
- Untuk menstimulasi keterampilan bahasa dan menyimak, pilihlah buku untuk bayi dan balita yang memuat irama, nyanyian, dan pengulangan
- Bacalah buku tersebut terlebih dahulu sebelum membacakannya kepada anak-anak untuk memastikan kesesuaiannya dan merencanakan untuk memperpendek cerita, menghapus bagian tertentu, atau menguraikan bagian lain secara lebih rinci, serta merencanakan jeda, penekanan, dan bagian yang dapat ditarik pertanyaan, tebakan, atau reaksi
- Rencanakan untuk memberikan waktu yang cukup untuk buku atau cerita tersebut (15 hingga 20 menit)
- Berikan anak-anak waktu untuk duduk dengan posisi yang baik serta bersiap secara fisik dan mental untuk mendengarkan cerita
- Membaca nyaring adalah keterampilan yang dimiliki secara alami oleh segelintir orang, oleh karena itu latihan membantu melakukannya dengan mudah dan berhasil
- Sebelum mulai membaca, beri tahu anak-anak judul cerita, nama penulis, dan nama ilustrator, meskipun Anda telah membacakan rincian ini pada kesempatan sebelumnya
- Saat membaca buku untuk pertama kalinya, diskusikan ilustrasi dan gambar di sampul dan tanyakan kepada anak-anak tentang apa yang mereka perkirakan akan dibahas dalam buku tersebut
- Sangat penting bagi pembaca untuk memperhatikan suasana hati dan ekspresi wajahnya sebelum dan selama membaca; menggunakan ungkapan bernada otoriter seperti «Berhenti bergerak sekarang dan duduk yang baik, perhatikan dan fokuslah» tidak menciptakan suasana yang membantu anak untuk menerima dan memahami
- Saat membaca cerita yang memuat gambar, pastikan semua anak dapat melihat gambar tersebut
- Berikan anak-anak waktu yang cukup untuk melihat gambar saat membaca
- Salah satu kesalahan paling umum dalam membaca nyaring adalah membaca terlalu cepat; bacalah secara perlahan untuk membantu anak-anak membangun gambaran mental dari apa yang mereka dengar
- Ubahlah suara, nada bicara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh Anda seiring dengan perubahan karakter dan perasaan mereka
- Berikan kesempatan kepada anak-anak untuk menghubungkan buku tersebut dengan diri mereka sendiri atau pengalaman mereka (misalnya: buku ini tentang kunjungan seorang anak perempuan kecil bernama Layla ke kebun binatang, apakah kalian pernah mengunjungi kebun binatang? Siapa raja hutan? Apa hewan favorit kalian?)
- Dorong anak-anak untuk menebak dan memprediksi saat membaca cerita
- Bantulah anak-anak dalam mengonfirmasi atau meninjau kembali tebakan dan prediksi mereka seiring dengan semakin jelasnya peristiwa dalam cerita
- Hargailah semua tebakan dan prediksi, bukan hanya yang benar; alih-alih menggunakan kata-kata seperti benar atau salah, gunakan kata-kata seperti (mungkin, bisa jadi begitu, mari kita lihat!)
- Perhatikan audiens Anda. Perhatikan ekspresi dan bahasa tubuh anak-anak serta perhatikan tanda-tanda ketidakpahaman atau kebosanan; berdasarkan pengamatan ini, ubahlah cara membaca, gantilah bukunya, atau persiapkan mereka dengan lebih baik di lain waktu
- Ajukan pertanyaan terbuka di akhir cerita yang tidak mengandung kemungkinan benar atau salah dan jawabannya bukan ya atau tidak (contoh: tanyakan kepada anak-anak apa hal yang mereka sukai dalam cerita? Atau hal yang tidak mereka sukai dan mengapa), Anda mungkin juga bisa menanyakan pendapat mereka tentang para karakter, tanyakan apakah buku tersebut mengingatkan mereka pada buku lain atau cerita yang pernah mereka dengar atau pengalaman pribadi yang pernah mereka lalui
- Tunjukkan bagian yang Anda sukai dalam buku tersebut atau tanyakan kepada mereka tentang bagian yang mereka sukai atau yang memicu imajinasi mereka
- Ingatlah bahwa ada anak-anak yang belum terbiasa mendengarkan cerita dan mungkin belum mengembangkan kemampuan serta minat yang sesuai untuk menyimak; Anda dapat menyibukkan anak-anak yang aktif selama cerita dengan plastisin atau kertas dan pensil untuk memastikan ketenangan dan posisi duduk mereka selama cerita.
- Diskusikan cerita bersama anak-anak, tetapi jangan mengubah diskusi menjadi ujian
- Tambahkan dimensi ketiga pada cerita jika memungkinkan dengan membawa beberapa benda yang disebutkan di dalamnya
- Rencanakan waktu bagi anak-anak untuk membaca sendiri, meskipun pengalamannya hanya sekadar membolak-balik halaman buku dan melihat gambar
- Jika seorang anak ingin membaca untuk Anda, sebaiknya pilihlah buku yang mudah
- Doronglah anak-anak yang lebih tua untuk membaca bagi anak-anak yang lebih muda
- Mari kita ingat bahwa yang terpenting adalah kita menikmati membaca cerita bersama anak-anak
Membaca Dialogis Dialogic Reading
Apa itu membaca dialogis?
Ini adalah metode interaktif untuk membaca cerita bergambar yang dirancang guna mengembangkan keterampilan bahasa serta keterampilan membaca dan menulis pada anak-anak
Mengapa membaca dialogis?
- Studi menunjukkan efektivitas membaca dialogis dalam pertumbuhan dan pengembangan banyak keterampilan anak dibandingkan dengan membaca biasa
- Meningkatkan kosakata anak dan mengembangkan keterampilan bahasanya secara keseluruhan
- Mendukung bahasa lisan yang pada gilirannya mendukung keterampilan membaca dan menulis pada tahap anak usia dini
- Meningkatkan kelancaran lisan
- Mengembangkan keterampilan deskriptif anak-anak
- Meningkatkan ketertarikan anak-anak terhadap buku
- Membantu orang dewasa menentukan apakah konten tersebut dipahami oleh anak
- Mengenalkan komponen dasar cerita (karakter, peristiwa, hasil)
Prinsip-prinsip membaca dialogis:
Membaca dialogis didasarkan pada aturan tertentu yang disingkat dalam dua kata: PEER & CROWD
- A. Mendorong dan menstimulasi Prompt
Guru menggunakan sarana untuk mendorong anak-anak mendiskusikan buku menggunakan metode stimulasi CROWD
- B. Melengkapi kalimat Completion
Contoh: "Tetapi ia masih tetap ...................... (lapar)" / Nama kucing itu adalah ...............
- Mengingat kembaliRecall
Contoh: "Dapatkah kalian mengingat buah pertama yang dimakan ulat sutra?" / "Apa yang terjadi pada kucing itu?"
C. Pertanyaan terbuka Open-Ended
Contoh: "Teman-teman.. apa yang kalian lihat pada gambar-gambar ini?"
Pertanyaan siapa, apa, mengapa, di mana, kapan... Wh-questions
Contoh: "Mengapa ulat sutra merasa lebih baik setelah memakan daun hijau? Apa perkiraan kalian?" / "Siapa ini?"
D. Menjembatani Distancing
Anak-anak menghubungkan cerita dengan pengalaman dan kehidupan mereka
Contoh: "Apakah ada di antara kalian yang pernah merasa mulas di perutnya? Nyeri di perutnya? Seperti ulat sutra?" "Apakah kalian pernah melihat singa?"
- Evaluasi Evaluate
Guru mengevaluasi dan mengomentari informasi serta respons yang diberikan oleh anak-anak secara verbal
- Memperluas Expand
Guru memperluas respons anak dengan memasukkan kata anak atau kalimat yang belum lengkap ke dalam kalimat yang utuh, atau menggunakan respons anak dan menambahkannya
- Pengulangan Repeat
Guru mengulang pancingan awal untuk menentukan apa yang telah diperoleh anak dari dialog tersebut
Contoh PEER:
Guru: Apa yang kalian lihat pada gambar? Apa ini? (dorongan)
Anak-anak / anak: Monyet / Monkey
Guru: Benar sekali, itu seekor monyet yang sedang makan pisang (evaluasi + perluasan)
Guru: Apa ini? (pengulangan)
Anak-anak / anak: Monyet yang sedang makan pisang
Referensi:
Britto, P. R., Brooks-Gunn, J., & Griffin, T. M. (2006). Maternal reading and teaching patterns: Associations with school readiness in low-income African American families. Reading Research Quarterly, 41(1), 68–89.
Fletcher, K. L., Cross, J. R., Tanney, A. L., Schneider, M., & Finch, W. H. (2008). Predicting language development in children at risk: The effects of quality and frequency of caregiver reading. Early Education and Development, 19(1), 89–111.
Flynn, K. S. (2011). Developing children’s oral language skills through dialogic reading: Guidelines for implementation. Teaching Exceptional Children, 44(2), 8–16.
Landry, S. H., Smith, K. E., Swank, P. R., Zucker, T., Crawford, A. D., & Solari, E. F. (2012). The effects of a responsive parenting intervention on parent-child interactions during shared book reading. Developmental psychology, 48(4), 969–986.
Lane, H. B., & Wright, T. L. (2007). Maximizing the effectiveness of reading aloud. The Reading Teacher, 60(7), 668-675.
Wasik, B. A., & Bond, M. A. (2001). Beyond the pages of a book: Interactive book reading and language development in preschool classrooms. Journal of Educational Psychology, 93(2), 243–250.
Wasik, B.A. (2010). What teachers can do to promote preschoolers' vocabulary development: Strategies From an effective language and literacy professional development coaching model. The Reading Teacher, 63(8), 621-633.
Weigel, D. J., Lowman, J. L., & Martin, S. S. (2007). Language development in the years before school: A comparison of developmental assets in home and child care settings. Early Child Development and Care, 177(6-7), 719–734.
Yoder, P. J., Spruytenburg, H., Edwards, A., & Davies, B. (1995). Effect of verbal routine contexts and expansions on gains in the mean length of utterance in children with developmental delays. Language, Speech, and Hearing Services in Schools, 26(1), 21–32.
Awalnya diterbitkan dalam bahasa Arab. Versi bahasa Indonesia ini dihasilkan melalui terjemahan berbantuan AI; naskah asli berbahasa Arab tetap menjadi acuan.




