
Perkembangan Bahasa pada Anak dengan Gangguan Spektrum Autisme
11 April 2025
Pertumbuhan dan perkembangan keterampilan berbahasa merupakan tahap dasar dan penting bagi tumbuh kembang normal anak. Anak-anak pada umumnya melewati tahap perkembangan bahasa yang sama, terlepas dari berbagai faktor seperti perbedaan lingkungan bahasa dan perbedaan bahasa yang dipelajari anak, di samping perbedaan individu dalam kecerdasan atau kemampuan komunikasi sosial, sejauh mana orang tua berinteraksi dengan anak-anak mereka dan menggunakan bahasa bersama mereka, budaya sekitar, dan sebagainya.
Meskipun demikian, tidak semua anak terus mengembangkan keterampilan bahasa mereka secara memadai sehingga memungkinkan mereka menggunakan bahasa secara tepat dan efektif serta mencapai komunikasi sosial yang efektif. Adanya keterlambatan atau gangguan bahasa merupakan indikasi jelas adanya masalah perkembangan. Yang lebih penting, mempelajari masalah-masalah tersebut juga dapat membantu memahami hakikat proses pemerolehan bahasa.
Tanda-tanda keterlambatan perkembangan bahasa pada anak autisme
Adanya keterlambatan perkembangan bahasa pada anak-anak yang kemudian didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme dianggap sebagai tanda pertama yang diperhatikan oleh para orang tua pada anak-anak mereka dalam dua tahun pertama kehidupan anak (perlu diketahui bahwa tidak semua keterlambatan bahasa berarti anak tersebut menderita autisme). Di antara kesulitan yang dialami oleh anak-anak autis, selain kelemahan dalam kemampuan komunikasi sensorik dan sosial serta perilaku yang terbatas dan berulang, adalah keterlambatan dalam perkembangan bahasa mereka.
Kasus defisit dalam komunikasi bahasa pada penyandang autisme mencakup berbagai masalah bahasa dan berkisar antara:
- Ketidakhadiran bahasa sama sekali
- Penggunaan bicara stereotipik atau pengulangan kalimat tertentu
- Kesulitan memulai dan mempertahankan percakapan dengan orang lain
- Terdapat kasus-kasus dari mereka yang mampu menggunakan bahasa dengan lancar disertai beberapa kesulitan dalam penggunaan bahasa secara pragmatis, seperti memahami ungkapan kiasan berupa metafora dan sarkasme.
Studi tentang perkembangan bahasa pada anak autisme
Studi-studi terkini menunjukkan bahwa sekitar 25% dari penyandang gangguan spektrum autisme tidak memperoleh kemampuan apa pun untuk mengekspresikan diri menggunakan bahasa. Sementara beberapa peneliti cenderung berpendapat bahwa masalah bahasa pada anak-anak autis disebabkan oleh defisit dalam kemampuan komunikasi sosial, dan bahwa keterampilan bahasa dasar (seperti bunyi dan tata bahasa) tetap utuh, namun penelitian menunjukkan adanya gangguan bahasa yang signifikan pada semua individu autis.
Selain itu, terdapat heterogenitas yang besar dalam waktu dan pola pemerolehan bahasa pada penyandang autisme, sehingga kemampuan anak-anak yang mengalami gangguan ini untuk berkomunikasi dan menggunakan bahasa bergantung pada perkembangan kognitif dan sosial mereka.
Terkadang anak-anak autis mulai berbicara setelah anak-anak lain yang tidak terdiagnosis, sementara anak yang berkembang secara normal mulai mengucapkan kata-kata pertamanya pada tahun pertama kehidupannya, sedangkan anak autis mulai mengucapkan kata-kata pertamanya pada usia 2 hingga 3 tahun, dan perkembangan bahasa secara umum terus berlangsung dengan laju perkembangan yang lebih lambat dibandingkan teman sebayanya.
Menjelang tahun kedua kehidupan, anak-anak autis menunjukkan pola komunikasi yang berbeda dibandingkan anak-anak yang memperoleh bahasa secara normal. Contohnya, sementara anak normal menunjukkan respons terhadap namanya sekitar bulan keempat hingga keenam, anak-anak yang didiagnosis autisme pada usia 12 bulan menunjukkan respons yang terbatas saat mendengar nama mereka atau mendengar suara ibu mereka dan ucapan sederhana yang digunakan bersama anak-anak.
Studi yang dilakukan pada bayi dan anak-anak kecil dengan autisme menunjukkan bahwa antara usia 12 dan 24 bulan, anak-anak kecil yang kemudian didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme ini memahami jauh lebih sedikit frasa dan menggunakan lebih sedikit gestur berupa ekspresi wajah dan isyarat dibandingkan tingkat normal pada anak-anak.
Perkembangan keterampilan perhatian bersama (joint attention) dan pemahaman kata
Sebelum anak-anak mulai mengucapkan kata-kata pertama mereka, terdapat berbagai faktor yang berkaitan dengan pertumbuhan anak dan perkembangan kemampuan komunikasi sosialnya yang memiliki hubungan erat dengan perkembangan bahasa pada anak secara umum, seperti peniruan, bermain, gestur, dan apa yang disebut perhatian bersama. Keterampilan perhatian bersama (joint attention) diketahui sangat penting untuk pengembangan keterampilan sosial dan keterampilan komunikasi di kalangan anak-anak serta memainkan peran penting dalam perkembangan bahasa.
Keterampilan perhatian bersama didefinisikan sebagai kemampuan anak-anak untuk mengoordinasikan perhatian pada suatu hal bersama dengan orang-orang di sekitar mereka. Misalnya, anak mengenali benda-benda di lingkungan sekitar sejak dini melalui proses perhatian bersama, di mana orang tua menyediakan kesempatan untuk mempelajari nama-nama benda dengan menunjuk ke objek baru atau peristiwa baru di lingkungan, sehingga anak sejak bulan keenam dapat mengikuti arah pandangan orang tua ke benda-benda di lingkungan yang membantu mereka mengetahui apa yang dimaksud oleh pembicara, dan kemampuan menggunakan keterampilan ini berkembang seiring berjalannya waktu menjadi lebih kompleks.
Studi-studi menunjukkan hubungan erat antara keterampilan perhatian bersama dengan perkembangan pemerolehan dan pemahaman kata, serta bahwa variasi dalam respons terhadap perhatian bersama oleh anak-anak dapat berdampak negatif pada perkembangan bahasa dan ini mungkin menjadi penyebab keterlambatan bahasa pada anak-anak autis. Studi-studi menunjukkan bahwa anak-anak autis biasanya mengalami masalah dalam menggunakan keterampilan perhatian bersama secara spontan dan terintegrasi sejak dini, yang memengaruhi perkembangan bahasa dan perkembangan komunikasi mereka. Anak-anak autis lebih kecil kemungkinannya dibandingkan rekan-rekan mereka yang berkembang secara normal untuk merespons atau memulai proses perhatian bersama menggunakan suara atau gestur seperti menunjuk ke hal baru untuk menarik perhatian orang dewasa.
Penggunaan bahasa dalam konteks komunikasi sosial
Penelitian terkini menunjukkan bahwa bahkan pada individu autis yang memiliki kemampuan bahasa, aspek pragmatik bahasa mereka biasanya lebih lemah daripada orang normal. Konsep "pragmatik" dalam bahasa mengacu pada penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi sosial antarindividu, dan mencakup bagaimana bahasa digunakan dalam konteks komunikasi sosial, contohnya:
Mengubah cara berbicara sesuai dengan lawan bicara, memperhatikan giliran dalam percakapan, serta memahami bahasa kiasan, peribahasa, dan ucapan tidak langsung. Begitu pula fungsi nonkebahasaan, seperti kontak mata, bahasa tubuh, dan ekspresi wajah.
Pragmatik dalam bahasa dianggap sebagai salah satu bidang bahasa yang paling bermotif sosial, karena menuntut pembicara untuk sepenuhnya menyadari situasi sosial dan kognitif lawan bicara; keterampilan bahasa ini berkembang selama lima tahun pertama kehidupan anak, namun bagi anak-anak autis, aspek pragmatik merupakan aspek bahasa yang paling lemah. Studi-studi menunjukkan bahwa anak-anak dan orang dewasa dengan autisme menafsirkan ucapan secara harfiah dan mengalami kesulitan dalam memahami apa yang dimaksudkan orang lain. Contohnya: penyandang autisme merasa sulit untuk memahami metafora dan memahami makna kata melalui konteks, sehingga kita mendapati mereka sering kali menafsirkan ucapan secara harfiah dan tidak mengartikan kata atau ungkapan dengan makna lain.
Program terapi yang disesuaikan untuk anak Anda
Kami tidak melupakan anak-anak dengan gangguan perkembangan dan perilaku seperti anak-anak autis di Ynmo Tifli, di mana kami telah mendedikasikan program terapi terpadu untuk mengembangkan keterampilan bahasa, perilaku, dan sosial mereka.
Unduh aplikasi Ynmo Tifli sekarang!
Awalnya diterbitkan dalam bahasa Arab. Versi bahasa Indonesia ini dihasilkan melalui terjemahan berbantuan AI; naskah asli berbahasa Arab tetap menjadi acuan.





