Desain Universal untuk Pembelajaran
31 Oktober 2021
Tahun-tahun terakhir telah menyaksikan peningkatan fokus di dalam lembaga-lembaga pendidikan pada pengembangan praktik-praktik pendidikan inklusif. Hal ini karena kesetaraan kesempatan dalam pendidikan dianggap sebagai prioritas nasional. Hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor internal dan eksternal, termasuk kebijakan pendidikan, undang-undang antidiskriminasi, peningkatan keberagaman murid, serta pengakuan yang berkembang bahwa metode tradisional untuk pengajaran, pembelajaran, dan penilaian memerlukan peninjauan menyeluruh.
Pada dekade saat ini, Desain Universal untuk Pembelajaran (Universal Design for learning), yang dikenal dengan singkatan (UDL), telah menjadi topik yang banyak dibahas dan umum di bidang pendidikan khusus. Hal ini memperoleh arti penting yang besar dalam ranah pedagogis dan pendidikan, sebagai hasil dari meningkatnya kesadaran akan perlunya memberikan akses ke kurikulum umum (Access to the general curriculum) kepada individu penyandang disabilitas. Desain Universal untuk Pembelajaran merupakan kerangka pendidikan yang menggabungkan prinsip-prinsip Desain Universal (Universal Design) dengan penelitian ilmu saraf (Neuroscience). Pendekatan ini bertujuan untuk membuat pembelajaran dapat diakses oleh beragam kemampuan, kekuatan, dan preferensi pembelajaran. Pendekatan ini bekerja berdasarkan model sosial disabilitas (Social model of disability), yang menegaskan bahwa individu tidaklah cacat, melainkan mereka dibuat menjadi terbatas oleh lingkungan dan pengalaman belajar yang tidak dirancang dengan mempertimbangkan mereka, serta tidak sesuai dengan perbedaan kemampuan mereka. Desain Universal untuk Pembelajaran juga bertujuan untuk meningkatkan akses terhadap pembelajaran dengan mengurangi hambatan fisik, kognitif, organisasi, dan hambatan lainnya. Selain itu, prinsip-prinsip Desain Universal untuk Pembelajaran sejalan dengan penerapan praktik pendidikan inklusif di ruang kelas. Desain Universal untuk Pembelajaran menawarkan gagasan bahwa para guru harus merencanakan dukungan instruksional di awal perencanaan pelajaran, alih-alih memodifikasi materi sebagai pemikiran belakangan. Ini merupakan salah satu solusi yang memungkinkan untuk membantu guru pendidikan khusus dan pendidikan umum dalam mengembangkan rencana pembelajaran yang sesuai bagi beragam murid.
Model Desain Universal untuk Pembelajaran terdiri dari tiga komponen utama untuk mengatasi hambatan yang ada di dalam kelas pendidikan umum, yaitu: (representasi, ekspresi, dan keterlibatan). Unsur pertama, Representasi (Representation), mengacu pada modifikasi yang dapat dilakukan pada materi pelajaran agar lebih mudah diakses oleh murid penyandang disabilitas (seperti: buku yang dimodifikasi, teks berukuran besar, dan teks digital). Unsur kedua, Ekspresi (Expression), menentukan cara-cara alternatif untuk berkomunikasi dengan murid yang memiliki keterbatasan bicara (seperti: penggunaan perangkat komunikasi augmentatif, komputer, dan perangkat lunak grafis). Komponen ini menjelaskan bagaimana murid dapat mengekspresikan diri mereka melalui menjawab pertanyaan dan berkomunikasi dalam lingkungan kelas. Unsur ketiga, Keterlibatan (Engagement), menjelaskan penggunaan strategi yang melibatkan murid penyandang disabilitas dalam proses pembelajaran (seperti: memberikan pengulangan, pengetahuan dan keakraban, serta kesempatan merespons). Komponen-komponen ini membantu mengurangi hambatan yang merintangi kurikulum tanpa mengurangi standar pencapaian.
Sebagai penutup, studi dan penelitian terkini di bidang pendidikan khusus menegaskan bahwa Desain Universal untuk Pembelajaran memiliki dampak yang mendalam terhadap pengajaran dan pembelajaran. Hal ini mencakup penggabungan berbagai metode untuk melibatkan semua murid dalam kurikulum inklusif yang menghargai keberagaman dan meningkatkan hasil belajar tanpa menurunkan standar atau ekspektasi.
Adnan Al-Hazmi
Anggota Staf Pengajar di Universitas Taibah | Departemen Pendidikan Khusus
Awalnya diterbitkan dalam bahasa Arab. Versi bahasa Indonesia ini dihasilkan melalui terjemahan berbantuan AI; naskah asli berbahasa Arab tetap menjadi acuan.






