skip to content
Ynmo
Untuk Profesional

Integrasi Sensori

12 Mei 2018

Integrasi sensori adalah salah satu program autisme yang paling menonjol dan penting, yang menjadi spesialisasi terapis okupasi. Dialah yang menentukan letak masalah sensori pada anak autisme, dan ia bekerja untuk mengatur indra anak autisme agar informasi dapat sampai dan dianalisis secara benar di otak. Di sisi lain, ia menghubungkan berbagai indra agar dapat berfungsi sebagai satu kesatuan. Pekerjaan terapis okupasi yang berspesialisasi dalam integrasi sensori bergantung pada indra peraba sebagai tingkat pertama.

• Teori integrasi sensori: tinjauan historis:

Teori integrasi sensori berupaya menjelaskan masalah-masalah khusus dalam belajar dan perilaku yang tidak disebabkan oleh kerusakan pada sistem saraf pusat. Orang pertama yang meletakkan dasar teori integrasi sensori saraf adalah terapis okupasi asal Amerika, Jean Ayres. Ia menambahkan pada panca indra yang kita kenal indra-indra tersembunyi lainnya, yaitu indra vestibular yang berhubungan dengan telinga bagian dalam dan memberikan informasi tentang gravitasi (ruang, keseimbangan, gerakan) melalui posisi kepala dan tubuh terhadap permukaan bumi; rasa keseimbangan yang ada di telinga bagian dalam dan memberitahukan kita tentang posisi kepala ke depan atau ke belakang bahkan saat kita memejamkan mata. Fokus Ayres pada fungsi saraf dan proses belajar telah membantu kemajuan dalam memahami "kecerdasan" sebagai hasil dari persepsi sensori, integrasi sensori, dan pemrosesan sensori. Karyanya menghasilkan banyak penelitian untuk meningkatkan kemampuan belajar melalui terapi sensori integrasi yang membantu anak-anak maju menuju pemanfaatan kemampuan mental yang lebih tinggi.

• Penemu pertama teori integrasi sensori:

Beliau adalah Jean Ayres, seorang terapis okupasi, pada tahun 1972. Untuk memudahkan penjelasan teori Jean, diketahui bahwa indra-indra dasar adalah indra penglihatan dan indra pendengaran, tetapi Jean berfokus pada tiga indra tambahan yang mungkin terabaikan oleh para spesialis dalam perkembangan dan pertumbuhan anak, yaitu Tactile melalui kulit (indra peraba, yang mencakup sentuhan ringan, tekanan, rasa sakit, dan rasa suhu), Proprioceptive baik otot maupun sendi (indra gerakan tubuh), dan Vestibular (indra keseimbangan yang ada di telinga bagian dalam dan memberitahukan kita tentang posisi kepala ke depan atau ke belakang bahkan saat kita memejamkan mata). Untuk memahami dua indra terakhir secara lebih baik:

Contoh:

Belajar sepeda: ketika anak belajar mengendarai sepeda, kedua indra ini—gerakan tubuh dan keseimbangan—harus bekerja sama dengan baik agar ia dapat mengendarai sepeda tanpa terjatuh ke tanah. Bahkan janin di dalam perut ibunya menggunakan indra-indra ini sebelum indra pendengaran dan penglihatan; ia bereaksi ketika ada tekanan dari luar dan bergerak di dalam rahim. Saat lahir, ia merasakan sentuhan ibunya dan terdiam saat digendong. Pada usia enam bulan, indra penglihatan mulai berpadu dengan gerakan dan keseimbangan.

Ketika ia mulai belajar cara duduk dan mengontrol keseimbangan serta topangan, jika anak menerima sensasi yang berbeda-beda—sentuhan, rasa gerakan tubuh, keseimbangan, penglihatan, penciuman, pendengaran—hal itu dianggap sebagai asupan sensori yang penting bagi otak. Sebab, fungsi otak adalah menerima semua stimulus sensori secara terus-menerus dan menggunakannya secara terpadu.

Oleh karena itu, menerima terapi keterpaduan sensori terletak pada peningkatan efektivitas sistem saraf anak dalam menerjemahkan dan menggunakan informasi sensori yang diterimanya dari lingkungan dengan cara yang membantu anak mengatasi kesulitan sensori yang dimilikinya. Dengan demikian, anak belajar memilih keterpaduan indra yang membantunya mencapai tujuannya. Dan sekarang setelah konsep keterpaduan sensori menjadi lebih jelas,

Pertanyaannya adalah: apa hubungannya dengan autisme? Jawabannya adalah bahwa anak-anak autisme memiliki gangguan pada sistem sensori (Dysfunctional sensory system), di mana gangguan ini dapat berupa kurangnya respons atau berlebihnya respons pada satu sensasi atau lebih. Ada anak yang sangat terpengaruh oleh suara (respons berlebih) dan yang lainnya bersikap seolah-olah tidak mendengar (kurang respons). Yang lainnya membenci sentuhan, bahkan sentuhan biasa, dan mungkin membenci jenis pakaian tertentu karena kasar. Bahkan untuk makanan, mereka mungkin lebih menyukai makanan yang lunak dan lembut yang bertekstur halus di mulut. Jadi di sini ada gangguan sensori berupa hipersensitivitas atau peningkatan reaksi dari anak terhadap indra peraba. Ada pula yang bereaksi sangat kuat terhadap rasa sakit, dan sebaliknya ada yang tidak terpengaruh oleh rasa sakit. Demikian pula, ada anak-anak yang menyukai gerakan-gerakan yang memberikan stimulasi keseimbangan, seperti banyak anak yang suka berputar-putar di tempat, bergoyang ke depan dan ke belakang, melompat terus-menerus, atau memanjat tepi furnitur. Jadi di sini ada gangguan sensori berupa kurangnya respons terhadap indra keseimbangan. Anak-anak lain justru sebaliknya, sama sekali tidak menyukai gerakan-gerakan yang melibatkan keseimbangan; mereka merasa sangat takut terhadap gerakan biasa seperti berayun, berseluncur, atau bahkan menuruni tangga, yakni merasa takut terhadap ruang terbuka. Di sini juga terdapat gangguan sensori Hypersensitive (respons berlebih). Proprioceptive seperti yang telah kami sebutkan adalah rasa keberadaan tubuh dari otot dan sendi; ketika indra ini bekerja dengan baik, kita dapat mengontrol cara duduk atau gerakan tangan seperti saat menulis dengan pena atau memegang sendok. Namun ketika ada gangguan, kita melihat anak sering tersandung saat berjalan, yakni sering jatuh ke tanah, kesulitan mengontrol gerakan seperti menyuapi diri sendiri atau mengancingkan bajunya. Dan ketika ada gangguan pada ketiga sensasi yang difokuskan oleh Jean Ayres, akan terjadi kesulitan dalam kerja otot-otot kecil dan besar secara bersama-sama, dan kehilangan keterpaduan sensori.

• Konsep integrasi sensori: penerimaan manusia terhadap informasi dari berbagai indra dan pengirimannya ke otak, kemudian memprosesnya dan memberikan respons yang sesuai. Setiap indra bekerja bersama sisa indra lainnya untuk membentuk gambaran utuh tentang bagaimana keadaan fisik kita, di mana kita berada, dan apa yang terjadi di sekitar kita. Otak bertanggung jawab memproduksi gambaran utuh ini sebagai sistem informasi sensori yang digunakan secara berkesinambungan. Integrasi sensori yang efektif terjadi secara otomatis, bawah sadar, dan tanpa upaya melalui pengalaman sensori kita, yang mencakup sentuhan, gerakan, kesadaran tubuh, penglihatan, suara, gaya gravitasi, keseimbangan, dan penciuman.

Integrasi sensori (SII) berkembang pada sebagian besar anak melalui aktivitas masa kanak-kanak yang normal. Ini membentuk fondasi mendasar bagi pembelajaran akademis dan perilaku sosial. Integrasi sensori dimulai di dalam rahim, di mana indra-indra tersembunyi ini berkembang secara dini pada tahap kehamilan sehingga otak janin merasakan gerakan tubuh ibu. Kemudian indra-indra ini berinteraksi dengan indra lainnya, yaitu pendengaran, penglihatan, pengecapan, dan penciuman yang berkembang kemudian. Contoh paling dekat dengan konsep integrasi sensori saraf adalah integrasi indra peraba dan penciuman dengan proses menghisap, bernapas, dan menelan saat menyusui alami pada bayi.

• Komponen proses komunikasi sensori

Penglihatan - pendengaran - peraba - penciuman - pengecapan - gerakan dan keseimbangan - posisi tubuh

• Pentingnya proses integrasi sensori:

1. Membantu seseorang beradaptasi secara alami dengan lingkungan sekitarnya melalui pemahaman terhadap stimulus lingkungan dan mengeluarkan respons yang sesuai untuknya.

Contoh: ketika seorang anak kecil menyentuh cangkir panas dan merasakan sakit, ia menarik tangannya dengan cepat sehingga ia belajar.

2. Sistem taktil diskriminatif: sistem ini memungkinkan kita menentukan lokasi terjadinya sentuhan dan benda apa yang disentuh. Sistem taktil protektif: sistem ini memperingatkan kita saat terpapar bahaya dan menghasilkan respons berupa melarikan diri, takut, atau bahkan reaksi permusuhan. Gangguan kerja sistem taktil dapat menyebabkan sistem protektif menerjemahkan kontak biasa sebagai suatu bahaya. Dalam kasus anak-anak yang sistem sensorinya memberikan informasi yang salah, mereka selalu berada dalam lingkaran waspada, dan reaksinya bisa berupa larinya anak, kepanikan hebat, reaksi bermusuhan, atau kadang-kadang reaksinya berupa verbal.

Gangguan integrasi sensori:

Adalah gangguan saraf yang timbul akibat ketidakmampuan otak untuk mengintegrasikan dan memproses informasi

tertentu yang diterima dari sistem sensori, serta ketidakseimbangan dalam hubungan berkelanjutan antara perilaku

dan kerja otak. Oleh karena itu, mungkin muncul beberapa perilaku yang tampak aneh dan tidak kita temukan

penjelasan logis yang jelas atau penyebab lahiriahnya. Perilaku-perilaku ini memengaruhi secara langsung

proses belajar anak, karena menjadi penghambat bagi pembelajaran anak dan integrasinya dalam lingkungan pendidikan tempat ia berada. Ia tidak dapat berkomunikasi dengan baik dengan para pendidik dan guru, serta dengan teman-teman sekelasnya, dan merasa kesulitan dalam mengerjakan pekerjaan rumah, sehingga dimulailah serangkaian masalah keluarga dan pendidikan pada anak. Akibatnya, kita merasa sulit untuk memahami dan menangani masalah-masalah ini. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa gangguan proses sensori pada anak memiliki dampak langsung dan kuat pada pembelajarannya, yang membutuhkan intervensi khusus untuk mengetahui gangguan ini dan menyusun rencana terapi guna mengurangi dampak negatifnya pada anak. Telah diamati bahwa anak-anak yang memiliki masalah seperti ini dapat tampak menonjol dalam hal-hal lain dan dapat memiliki kecerdasan normal atau di atas normal.

Siapa saja yang memiliki masalah dalam integrasi sensori:

1. Gangguan sensori perkembangan.

2. Autisme.

3. Kasus gangguan pemusatan perhatian dan kurang konsentrasi tingkat lanjut.

4. Kasus gangguan keseimbangan (khusus untuk sistem vestibular).

5. Masalah dalam keterampilan akademis dan seni.

6. Gangguan koordinasi bilateral.

7. Gangguan pusat gravitasi.

8. Gangguan motorik dan gangguan yang menyertainya.

• Terdapat banyak indikator kurangnya integrasi sensori:

a- Kehilangan rasa posisi tubuh di dalam ruang atau tidak merasa aman saat bergerak melawan gravitasi bumi.

b- Kehilangan persepsi sensori dan visual serta keterampilan sosial seperti keterlambatan bahasa dan bicara yang menyebabkan hilangnya rasa percaya diri.

c- Di mana gangguan pada mereka ini bisa berupa kurangnya respons atau berlebihnya respons pada satu sensasi atau lebih; ada anak-anak yang sangat terpengaruh oleh suara (respons berlebih) dan yang lainnya bersikap seolah-olah tidak mendengar (kurang respons).

d- Yang lainnya membenci sentuhan bahkan sentuhan biasa, dan mungkin membenci jenis pakaian tertentu karena kasar.

e- Bahkan makanan, mereka mungkin lebih menyukai makanan yang lunak dan lembut yang bertekstur halus di mulut... Jadi di sini ada gangguan sensori berupa hipersensitivitas atau respons berlebih dari anak terhadap indra peraba.

f- Ada pula yang bereaksi sangat kuat terhadap rasa sakit, dan sebaliknya ada yang tidak terpengaruh oleh rasa sakit. Demikian pula ada anak-anak yang menyukai gerakan yang memberikan stimulasi keseimbangan, seperti banyak anak yang suka berputar-putar di tempat atau bergoyang ke depan dan ke belakang, melompat terus-menerus, atau memanjat tepi furnitur; jadi di sini ada gangguan sensori berupa kurangnya respons terhadap indra keseimbangan. Anak-anak lain justru sebaliknya, sama sekali tidak menyukai gerakan yang melibatkan keseimbangan; mereka merasakan ketakutan luar biasa dari gerakan biasa seperti berayun, berseluncur, atau bahkan menuruni tangga, yakni merasa takut terhadap ruang terbuka. Di sini juga terdapat gangguan sensori Hypersensitive (respons berlebih).

g- Proprioceptive adalah rasa keberadaan tubuh dari otot dan sendi; ketika indra ini bekerja dengan baik, kita dapat mengontrol cara duduk atau gerakan tangan seperti saat menulis dengan pena atau memegang sendok. Namun ketika ada gangguan, kita melihat anak sering tersandung saat berjalan, yakni sering jatuh ke tanah, kesulitan mengontrol gerakan seperti menyuapi diri sendiri atau mengancingkan bajunya.

h- Dan ketika ada gangguan pada ketiga sensasi yang difokuskan oleh Jean Ayres, akan terjadi kesulitan dalam kerja otot-otot kecil dan besar secara bersama-sama... dan kehilangan keterpaduan sensori.

i- Kesulitan memegang pensil atau bermain dengan mainan atau melakukan tugas perawatan diri seperti berpakaian padahal ia cerdas.

j- Memiliki aktivitas berlebih dan sering kali jatuh, berlari, serta membenturkan kepalanya secara berbahaya.

k- Anak meletakkan tangannya di atas telinga saat mendengar suara kendaraan yang melintas di jalan atau saat mendengar suara pensil saat menulis.

l- Keterikatan anak pada kipas angin saat berputar hingga membuatnya terhalang untuk fokus pada apa yang terjadi di sekitarnya.

m- Kurangnya perkiraan jarak oleh anak, yang terkadang membuatnya melompat dari tempat tinggi yang dapat menyebabkan cedera padanya.

n- Tidak ingin disentuh atau dicium dan menghindari kasih sayang.

o- Sensitif terhadap bermain di lumpur atau plastisin.

p- Berjalan hanya dengan ujung jari kaki.

q- Menyakiti diri sendiri atau berbuat buruk kepada orang lain.

r- Kesulitan memanjat, berlari, atau memukul bola.

• Bagaimana anak menerima informasi dan bagaimana ia meresponsnya:

Ketika seorang anak kecil meletakkan tangannya di atas cangkir teh panas, kita mendapati ia menarik tangannya dengan cepat karena merasakan panasnya cangkir, dan ia belajar bahwa cangkir panas ini tidak boleh disentuh lagi. Situasi sederhana ini diselingi banyak proses yang rumit: anak melihat di depannya sebuah benda silinder yang menyerupai sesuatu yang ia kenal, yaitu cangkir ("mengenali benda itu sendiri"), mengulurkan tangannya ke arah cangkir dengan jarak yang sesuai antara anak dan cangkir ("memperkirakan jarak melalui penglihatan"), kemudian meletakkan tangannya dan merasakan panas ("indra kulit terhadap panas"), dan pemahaman akal bahwa panas ini mengharuskan ia menarik tangannya dari cangkir. Ini adalah bagian dari proses-proses awal yang dialami anak dalam situasi ini... Jika kita ingin mengetahui proses-proses tersebut secara sederhana, dapat dikatakan bahwa informasi sensori masuk melalui indra ke dalam tubuh, lalu saraf meneruskannya ke sistem saraf pusat yang menerjemahkan informasi ini dan menentukan respons yang sesuai untuknya, serta menerjemahkan tanggapan ini menjadi sinyal-sinyal saraf yang diteruskan oleh saraf ke organ-organ yang dituju untuk merespons, sehingga organ tersebut melaksanakan respons. Jika terjadi gangguan pada langkah mana pun dari langkah-langkah yang disebutkan sebelumnya, kita mendapati bahwa respons tidak sesuai dengan stimulus, karena proses tersebut mengalami gangguan yang memengaruhi langkah-langkah lainnya.

a- Bidang visual:

Studi dan observasi perilaku langsung menunjukkan hal-hal berikut:

- Anak-anak autisme tidak menggunakan bidang visual untuk mengumpulkan stimulus visual secara tepat.

- Anak-anak autisme kurang memiliki keterampilan kontak mata.

- Sebagian anak autisme ditandai oleh penglihatan terowongan (tunnel vision) dan sensitivitas visual melalui pembedaan stimulus visual tertentu dibanding yang lain.

b- Gangguan pada bidang auditori:

Teramati adanya berbagai masalah di bidang integrasi pendengaran dan memori auditori pada anak-anak autisme, dan hal ini tampak melalui:

1. Sensitivitas anak autisme terhadap suara.

2. Tidak adanya respons anak autisme terhadap suara orang lain saat dipanggil.

3. Gangguan perilaku anak autisme saat terpapar berbagai macam suara.

4. Kecenderungan anak-anak autisme terhadap musik dan ucapan yang berirama.

5. Ambang pendengaran yang sangat rendah dan kemampuan tinggi dalam membedakan suara pada sebagian anak.

c- Bidang pengecapan:

Gangguan ini teramati pada anak autisme melalui adanya sensitivitas tinggi di mulut yang tampak melalui kecenderungan anak autisme memasukkan benda-benda yang bukan makanan ke dalam mulut, serta kecenderungan terhadap jenis makanan tertentu dibanding yang lain; selain itu, sebagian anak autisme lebih menyukai makanan pedas atau asin.

d- Posisi tubuh dan gerakan:

1. Menempatkan anak pada posisi-posisi tubuh yang memungkinkan pelaksanaan tugas-tugas yang sesuai.

2. Memberikan tekanan secara ringan pada tubuh disertai menggerakkan beberapa anggota tubuh.

3. Memosisikan anak saat duduk dan memintanya melakukan tugas-tugas tertentu.

4. Pijatan ringan dan gerakan lembut pada beberapa area lengan dan kaki, berfokus pada keterampilan motorik halus dan keterampilan koordinasi visual-motorik.

5. Kami membebani anak dengan beban tertentu dan memintanya membawanya agar ia merasakan berat pada otot dan persendian.

e- Komunikasi yang difasilitasi (facilitated communication):

Kebutuhan akan model penanganan ini muncul karena orang yang mengidap autisme mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain dan mengekspresikan diri mereka akibat gangguan dalam kontrol dan pengorganisasian gerakan, meskipun mereka memiliki kemampuan untuk memahami bahasa tertulis atau ucapan orang. Untuk mengatasi masalah ini, beberapa orang yang terlatih mengikuti beberapa metode dan sarana yang memudahkan komunikasi orang-orang tersebut dengan sesama, seperti memegang tangan orang tersebut dan meletakkannya di atas tombol-tombol tertentu pada perangkat tertentu atau komputer. Metode ini memudahkan kemampuan seseorang untuk memperoleh kemampuan mengekspresikan diri. Metode ini telah digunakan pada orang-orang yang sebelumnya diyakini tidak dapat berekspresi sama sekali, dan memberikan hasil positif serta meningkatkan kemampuan mereka untuk berekspresi.

• Siapa yang mengevaluasi proses keterpaduan sensori pada anak dan menyusun latihan yang diperlukan?

Dia adalah terapis okupasi (Occupational Therapist) yang memiliki sertifikat dalam terapi keterpaduan sensori.

Ia dapat mendiagnosis anak dengan gangguan keterpaduan sensori dan memiliki pengetahuan tentang cara menerapkan tes-tes khusus.

Sensory integration Disorder, dan terdapat sejumlah tes yang dilakukannya seperti

The Miller Assessment for Preschoolers (Miller, 1988) yang mencakup tes untuk (stereognosis, persepsi taktil, dan fungsi vestibular).

Terdapat pula tes lain yang lebih komprehensif yang dibuat oleh Jean Ayres dan tidak digunakan kecuali oleh orang yang telah menerima pelatihan tentangnya:

SIPT (Ayres, 1989), diterbitkan oleh Western Psychological Services.

Biasanya terapis okupasi berada di pusat-pusat khusus autisme atau pusat disabilitas. Jadi perannya penting dalam mengevaluasi anak dan berpartisipasi dalam rencana pendidikan, mengetahui kekuatan dan kelemahan, serta menyusun latihan yang membantu anak mengatasi kesulitan yang dihadapinya.

• Ruang integrasi sensori:

Merupakan sebuah ruangan yang dilengkapi dengan beberapa peralatan khusus untuk menstimulasi dan membangkitkan indra anak (indra pendengaran - indra penglihatan - indra peraba). Bagi anak-anak yang mengalami keterlambatan perkembangan dari aspek kognitif, sensori, dan interaksi dengan lingkungan sekitar, ruangan ini membantu menstimulasi indra penglihatan, kontak mata, dan meningkatkan konsentrasi anak melalui penayangan warna-warna yang menarik, menstimulasi, dan kuat di depan matanya, yang membuatnya memfokuskan pandangan dan memikirkan dunia baru yang mengelilinginya.

Dengan demikian, ia mulai fokus pada dunia lain untuk menjelajahi apa yang ada di sekitarnya dan apa yang terjadi di sekelilingnya, serta mendengarkan suara-suara indah yang membuatnya mengembangkan indra pendengaran dan konsentrasi pendengaran terhadap segala sesuatu yang berputar di sekitarnya.

• Cara kerja ruang integrasi sensori:

Otak menerima informasi yang masuk kepadanya dari berbagai indranya, kemudian menganalisis, mempersepsikan, dan menanganinya dengan respons yang sesuai. Sebagian spesialis berpendapat bahwa individu dengan disabilitas berat memiliki gangguan atau masalah dalam penerimaan informasi sensori, dan bahwa indra-indra ini membutuhkan pengaktifan atau stimulasi agar dapat menjalankan fungsinya dengan benar. Ruang terapi sensori dirancang secara khusus untuk menstimulasi semua indra, dan berisi sejumlah besar alat, perangkat, dan permainan yang berfungsi membangkitkan sejumlah indra pada saat yang bersamaan. Stimulasi multisensori dapat didefinisikan sebagai jenis terapi non-direktif yang dirancang untuk kasus-kasus disabilitas intelektual berat serta anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan berat seperti autisme dan lainnya. Salah satu keunggulan penting dalam terapi multisensori adalah tidak bergantung pada instruksi lisan atau tertulis, sehingga dapat digunakan pada kasus-kasus yang mengalami gangguan komunikasi berat.

• Apa saja hasil dari integrasi sensori?

Integrasi sensori berkontribusi pada perkembangan regulasi diri, kenyamanan, perencanaan motorik, keterampilan motorik, perhatian, dan kesiapan membaca.

• Regulasi diri

• Masukan sensori

• Perencanaan motorik

• Bagaimana integrasi sensori terjadi?

Williamson dan Anzalone (1996: 55) menetapkan komponen-komponen yang saling berhubungan yang membantu menjelaskan cara terjadinya integrasi sensori. Komponen-komponen tersebut adalah:

1) Pendaftaran sensori (Sensory registration).

2) Orientasi.

3) Penerjemahan (Interpretasi).

• Terapi integrasi sensori: Ada banyak latihan yang dapat diterapkan orang tua bersama anak mereka di rumah bagi anak-anak yang memiliki masalah dalam keterpaduan sensori, baik mereka menyandang autisme maupun tidak. Misalnya... membiasakan anak menerima sentuhan dapat dilakukan melalui mandi anak, seperti menggunakan spons atau kain dengan sabun berbusa, memijat tubuh anak dengan krim khusus atau minyak, permainan roti lapis (sandwich) seperti menaruh anak di antara dua bantal dalam suasana gembira dan memberikan tekanan ringan dan kuat secara bergantian dengan mencoba berkomunikasi dengan anak apakah ia menginginkan tekanan ringan atau kuat asalkan hal itu menyenangkan bagi anak. Terdapat pula permainan seperti berendam di kolam berisi bola-bola plastik... atau kolam berisi butiran pasir, membiasakan menyentuh berbagai benda seperti ikut serta menguleni adonan, membawa air dingin atau hangat sebagai bentuk partisipasi di dapur, mendekatkan mainan atau boneka bertekstur lembut atau kasar ke tubuh anak. Latihan-latihan lain yang beragam untuk anak yang takut akan gerakan di ruang bebas atau berputar: anak dapat dibiasakan bergoyang di atas kursi goyang pada awalnya, kemudian setelah itu berayun di ayunan. Juga permainan yang memerlukan merangkak dengan perut seperti masuk ke dalam terowongan kain, serta latihan melompat dan latihan menaiki anak tangga kecil

seperti tangga khusus perosotan; melatih anak berseluncur secara bertahap melalui permainan khusus juga sangat bermanfaat. Secara umum, kita melihat banyak latihan seperti merangkak, memanjat, bergoyang, berputar, melompat, bermain air, bermain pasir, bermain adonan, yang semuanya termasuk dalam berbagai permainan menyenangkan yang dapat dilakukan secara bertahap bersama anak dengan menggunakan sarana penguatan dan partisipasi. Terdapat banyak rekaman video yang membantu orang tua dan juga para guru di pusat-pusat layanan untuk menerapkan latihan bagi anak-anak yang memiliki kelemahan dalam keterpaduan sensori. Bermain dianggap sebagai salah satu cara paling penting dan terbesar untuk mendidik anak serta meningkatkan kesehatan psikologis, komunikasi, dan fisik mereka. Tidak diragukan lagi bahwa anak-anak autisme kekurangan satu atau lebih dari keistimewaan ini. Permainan-permainan ini telah dirancang dengan cara yang terencana untuk mengembangkan indra anak agar lebih menarik perhatiannya pada permainan tersebut, serta membantunya dalam koordinasi motorik-sensori dan berpartisipasi dengan orang lain.

Saya sebutkan beberapa di antaranya:

1. Kursi goyang: sangat elegan dan nyaman, memberikan gerakan ringan karena keseimbangannya yang cerdas.

2. Tempat tidur air: tempat tidur diisi dengan air dan dilengkapi dengan sistem musik; musik dapat diganti dengan Al-Qur'anul Karim.

3. Karpet gelombang: membantu anak mengembangkan keterampilan keseimbangan dan memperkuat otot-otot kaki.

• Metode penanganan:

Penanganan medis yang kami berikan untuk anak-anak autisme berfokus pada integrasi sensori, di mana terapis okupasi menstimulasi kulit anak autisme dan sistem keseimbangannya. Stimulasi ini mencakup beberapa aktivitas seperti berayun, gerakan berputar dan berporos di dalam kursi yang disiapkan untuk tujuan ini, menyikat bagian tubuh tertentu, dan mengikutsertakan anak-anak dalam aktivitas yang mencakup gerakan dan keseimbangan pada anak.

Penelitian-penelitian menegaskan efektivitas metode integrasi sensori dalam penanganan anak autisme, selain aktivitas-aktivitas tertentu yang meningkatkan konsentrasi dan kemampuan berpikir serta memecahkan masalah. Terapis okupasi juga berupaya mengikutsertakan anak dalam permainan yang membutuhkan area lantai yang luas seperti memanjat dan berlari.

Referensi:

- Dr. Bahaa El-Din Galal - Direktur Help Center untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.

- Ustadzah Rehab El-Hadidi, Pengawas Pendidikan - Pelatih Bersertifikat untuk Help Center, POP, dan American Training Agency - Peneliti Autisme, Down Syndrome, Integrasi Sensori, Bahasa dan Komunikasi.

- Ibrahim Rashid: Spesialis Gangguan Belajar Perkembangan (Dispraksia), Pakar Pendidikan, Konsultan Gangguan Belajar, Tahap Dasar, Pendidikan Anak Usia Dini, dan Non-Penutur Bahasa Arab.

Awalnya diterbitkan dalam bahasa Arab. Versi bahasa Indonesia ini dihasilkan melalui terjemahan berbantuan AI; naskah asli berbahasa Arab tetap menjadi acuan.

Masukkan informasi kontak

Kami akan menghubungi Anda dalam 24 jam.