Bagaimana Cara Mengukur Tingkat Kemajuan Siswa dalam Rencana Pendidikan/Pembelajaran Individual?
26 Oktober 2021
Ketika kita bekerja dengan individu penyandang disabilitas, kita mengukur tingkat kemajuan mereka terhadap tujuan yang telah ditetapkan untuk mereka karena hal ini menentukan keputusan kita terhadap program terapi. Perilaku-perilaku ini mungkin mencakup perilaku yang ingin kita kurangi, seperti: berteriak, tantrum, menyakiti diri sendiri, atau perilaku yang ingin kita tingkatkan, seperti: meminta, belajar membaca, dan berhitung. Pada awal tahap pengumpulan data, pertama-tama kita akan merumuskan perilaku target dalam istilah yang dapat diukur. Sebagai contoh, ketika mengatakan: Fahad berteriak, di sini perilaku target belum jelas! Sedangkan ketika mengatakan: Fahad berteriak terus-menerus selama 10 menit, di sini perilaku menjadi lebih jelas dan tepat.
Perumusan ini akan membantu setiap orang yang mengumpulkan data untuk mengetahui apa yang harus diukur dan apa yang tidak boleh diukur, sehingga kita dapat memastikan keakuratan dan keandalan data kita. Kemudian kita mengukur perilaku target menggunakan berbagai metode yang berbeda. Ini akan memungkinkan kita untuk menentukan apakah prosedur yang kita tetapkan memiliki dampak yang diinginkan. Kita menganalisis perilaku dan mengevaluasi efektivitas program berdasarkan data yang kita kumpulkan, dalam artikel kami ini kami mengulas beberapa metode pengumpulan data.
Contoh pengukuran perilaku tidak langsung:
- Frekuensi, yaitu berapa kali perilaku terjadi
Ketika kita ingin meningkatkan terjadinya perilaku yang diinginkan, seperti: perilaku meminta bantuan, kita akan mulai dengan menghitung berapa kali anak meminta bantuan saat mengerjakan tugas menulis.
Dan ketika kita ingin mengurangi terjadinya perilaku yang tidak diinginkan, seperti: menangis, kita akan mulai dengan menghitung berapa kali anak menangis.
Metode ini digunakan jika pengamatan bersifat konstan dari waktu ke waktu dan jika kesempatan yang tersedia bagi terjadinya perilaku adalah sama dari satu waktu ke waktu lainnya.
- Laju (rate), yaitu frekuensi perilaku siswa dalam periode waktu tertentu
Ketika kita ingin meningkatkan perilaku meminta, sebagai contoh: jika anak ingin mendapatkan biskuit favoritnya dan meminta sebanyak 15 kali dalam 5 menit, maka laju perilakunya adalah 15 ÷ 5 = 3 respons per menit, dan jika anak menjawab sepuluh soal dengan benar dalam waktu 5 menit, maka laju perilakunya adalah 10 ÷ 5 = 2 respons per satu menit.
Dan ketika kita ingin mengurangi perilaku yang tidak diinginkan seperti bangkit dari kursi, kita akan mengamati perilaku tersebut selama 30 menit; jika perilaku terjadi 10 kali, maka laju perilakunya adalah 30 ÷ 10 = 3 kali.
- Durasi, yaitu waktu yang dihabiskan siswa dalam suatu perilaku.
Sebagai contoh, meningkatkan perilaku yang diinginkan: anak membaca buku selama 10 menit.
Sebagai contoh, mengurangi perilaku yang tidak diinginkan: anak menangis selama 15 menit.
Contoh pengukuran perilaku langsung:
Contoh-contoh metode pengukuran langsung ini digunakan untuk jenis perilaku tertentu; ada perilaku yang mungkin tidak termasuk dalam jenis pengukuran ini.
- Interval parsial, yaitu mengukur apakah perilaku terjadi atau tidak terjadi selama interval waktu tertentu.
Contoh: Anda dapat membagi hari menjadi interval-interval waktu seperti 30 menit, dan Anda dapat menandai pada lembar data apakah perilaku bermasalah muncul kapan saja selama 30 menit tersebut. Idenya adalah agar mereka memiliki interval perilaku bermasalah yang semakin sedikit seiring berjalannya waktu.
Jika perilaku sering terjadi dan berdurasi singkat, kita menggunakan interval waktu seperti detik, dan jika perilaku jarang terjadi tetapi berlangsung lama, kita menggunakan interval waktu yang panjang seperti menit.
- Interval utuh, yaitu mengukur apakah perilaku terjadi sepanjang satu interval penuh.
Contoh: Anak Anda mengalami kesulitan untuk tetap fokus pada tugas saat mengerjakan pekerjaan rumah. Anda dapat memulai pengamatan selama 30 menit dan membaginya menjadi 5 interval waktu, lalu mengamati periode di mana perilaku tersebut terjadi secara penuh, apakah perilaku terjadi dalam 3 interval penuh, 2 interval, atau tidak terjadi sama sekali.
- Pencatatan sampel waktu sesaat, yaitu mengukur perilaku pada momen-momen tertentu.
Contoh: Anda ingin anak Anda merapikan mainan, tetapi Anda tidak ingin mengawasinya sepanjang waktu. Anda melihat ke arahnya pada momen-momen tertentu di waktu yang tepat untuk melihat apakah dia sedang merapikan mainannya atau tidak. Pengamat mencatat terjadinya atau tidak terjadinya perilaku hanya pada saat berakhirnya setiap interval waktu.
Awalnya diterbitkan dalam bahasa Arab. Versi bahasa Indonesia ini dihasilkan melalui terjemahan berbantuan AI; naskah asli berbahasa Arab tetap menjadi acuan.






